Sabtu, 01 Desember 2012

Cahaya al-Qur’an kunci kebahagiaan haqiqi, benteng pelindung dari jahiliyah modern


Allah menurunkan kitab-Nya yang agung sebagai petunjuk bagi hamba-hambanya yang beriman. Dan sebagai manhaj (jalan atau rel) agar manusia berjalan lurus diatas jalan itu selama hidupnya. Lalu manusia yang berakal (Ulul-albaab) akan mengambil cahaya dari cahanya al-Qur’an tersebut. Sedangkan manusia yang tdak menggunakan akalnya, lebih memilih untuk mengambil kegelapan, kesesatan dan kedzoliman dengan meninggalkan nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an. Orang-orang yang beriman akan mengambil petunjuk dari petunjuk yang ada dalam al-Qur’an, untuk kemudian menjalankan petunjuk tersebut di dalam kehidupannya, dan akan senantiasa memburu petunjuk itu dengan cara mempelajai kitab Allah yang maha suci ini. Karena tanpa mempelajarinya, mustahil akan mengetahui bahkan memahami segala sesuatu yang terkandung dalam al-Qur’an untuk kemudian melaksanakannya.
Di dalam al-Qur’an terkandung peraturan-peraturan yang apabila dilaksanakan maka akan menuntun manusia menuju puncak kebahagiaan dan kemuliaan. Jelas sekali bahwa kebahagiaan hanya akan diperoleh jika manusia teguh mengaplikasikan apa yang ada dalam al-Qu’an dalam kehidupannya di dunia yang maha fana ini. Telah terbukti bahwa tolok ukur kebahagiaan tidak pernah bisa dilihat dari seberapa banyak materi yang dia miliki. Ada sebuah cerita yang menjadi bukti bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari aspek materi saja. Ceritanya begini, seorang pengusaha yang telah sukses menjalankan bisnisnya, dia mengaku belum merasakan kebahagiaan di dunia ini. Dia mampu memiliki apapun yang ia inginkan dengan uang yang dia miliki. Namun saat dia ditanya, sudah bahagiakah anda ? jawabannya adalah, aku belum merasakan manisnya hidup yang orang lain rasakan. Bagaimana tidak bisa terjadi demikian, dia mengaku bahwa sampai saat ini, dia belum menentukan agama yang akan menjadi rel kehidupannya. Ya, bisa dia katakan dia adalah seorang atheis konglomerat. Setiap kali dia merasakan sesaknya hidup ini. Uangnya dia habiskan untuk berwisata menjelajahi negri yang ia inginkan, niatnya adalah untuk menghilangkan rasa sesak yang memenuhi hidupnya. Namun yang terjadi, dia hanya merasa bahagia ketika di tempat wisata. Saat ia kembali pada rutinitas kehidupannya, ia kembali pula pada kondisi batinnya yang terasa sesak itu. Dari cerita tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa kebahagiaan yang haqiqi adalah kebahagiaan yang bersumber dari Allah, bukan kebahagiaan yang hanya bersumber dari harta,wisata, dan kekuasaan. Nah untuk mendapatkan kebahagiaan haqiqi itulah, al-Qur’an yang mempunyai peran sangat penting. Al-Qur’an akan membimbing manusia untuk membiasakan perilaku kemanusiaannya. Yaitu perilaku yang suci (fitrah). Kita harus pandai-pandai dalam memanage hati kita, karena kebahagiaan bersumber dari hati. Dengan berpegang pada al-Qur’an maka keniscayaan yang terjadi adalah ia akan tetap dalam posisi “ahsanu taqwiim” atau sebagus-bagusnya ciptaan. Sedangkan manusia yang jauh dari al-Qur’an, sejatinya dia telah menghinakan dirinya sendiri menjadi “asfala saafiliin”. Hamba-hamba Allah yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidupnya, ia patut bersyukur karena ia tengah berjalan menuju kehidupan abadi yang mulia. Dan ia akan sampai pada batas maksimal keamanan, ketenangan, dan keselamatan.
Tidak diragukan lagai bahwa saat ini manusia sedang berpijak dalam kesesatan dan kebodohan (jahiliyah). Manusia tenggelam dalam menghalalkan semua cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Mereka menjadikan harta sebagai tuhan mereka. Manusia kembali pada masa jahiliyah. Seperti yang dikatakan oleh HAMKA, bahwa manusia saat ini sedang berada dalam masa “jahiliyah modern”. Kebodohan yang dimaksud bukan dari aspek ilmu pengetahuaanya. Tapi dari aspek perilaku yang semakin jauh dari al-Qur’an. Tidak diragukan lagi bahwa ilmu pengetahuan saat ini sedang naik daun. Namun justru banyak ilmu pengetahuan yang menjadikan manusia menjadi jahiliyah. Sebagai contoh, tindakan korupsi kelas kakap tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak berilmu pengetahuan. Para koruptor itu pastilah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas. Seperti itulah dinamika kehidupan saat ini, sehingga bisa dikatakan justru ilmu pengetahuan itu mengantarkan manusia kepada kejahiliyahan. Lantas, apakah kita harus menyalahkan ilmu pengetahuan? Tidak…!! Manusia lah yang seharusnya sadar akan penyakit jahiliyah yang ia derita. Kemudian segera berobat dengan al-Qur’an untuk menghilangkan penyakit yang ada dalam hatinya itu.
            Tidak ada jalan yang menyelamatkan kecuali islam. Ya, hanya islam satu-satunya agama yang akan mengantarkan manusia kepada surga yang penuh dengan kenikmatan. Kita boleh mengatakan bahwa “semua agama itu benar”, dengan syarat, harus ada 1 kalimat yang diikutkan dibelakangnya, yaitu “bagi masing-masing pemeluknya”. Dan haram hukumnya mengatakan bahwa semua agama itu benar, tanpa menambah kalimat bagi masing-masing pemeluknya. Karena hanya Islamlah agama yang paling benar. Islam akan menyelamatkan manusia jika manusia mau mempelajari apa yang telah diwahyukan oleh Allah berupa al-Quran . Didalam al-Qur’an terhimpun unsur-unsur kebahagiaan. Dan ilmu tentang kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh Allah semata. Namun, manusia dikaruniai potensi berupa akal, pengelihatan, dan pendengaran agar supaya manusia itu mengadopsi Ilmu yang dimiliki oleh Allah disesuaikan dengan dataran kemanusiaannya. Sesuatu yang harus kita terima apa adanya adalah bahwa mengamalkan al-Qur’an tidak akan bisa terwujud kecuali dengan 3 cara:
·         Memahami dan mentadaburi al-Qur’an
·         Komitmen untuk memegang nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk yang terhimpun didalamnya
·         Dan yang terakhir adalah dengan mengetahui penjelasan dan pengungkapan al-Qur’an. Inilah yang dimaksud dengan tafsir al-Quran.
Kita harus memahami tafsir al-Qur’an. Lebih khusus lagi pada zaman sekarang ini. Dimana banyak terjadi kerusakan-kerusakan dalam penguasaan bahasa arab. Termasuk didalamnya orang-orang keturuan arab sendiri. Banyak dari mereka yang tidak memahami bahasa arab fushah, mereka hanya mengetahui bahasa arab ‘aamiyah. Maka dari itu, sudah menjadi tugas wajib kita semua untuk mempelajari tafsir al-Qur’an. Karena Tafsir al-Qur’an merupakan kunci untuk membuka peti-peti ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an yang mulia. Manusia tidak akan sampai pada pemahaman yang komprehensif terhadap wahyu Allah jika tidak mempunyai kunci tersebut.
Wallahu a’lamu bis-shawaab…
Title: Cahaya al-Qur’an kunci kebahagiaan haqiqi, benteng pelindung dari jahiliyah modern; Written by Unknown; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca..dimohon masukannya ya.. :)