“Anaiza Bilqis Alifatunnisa…!!”
Dosen
itu memanggil namaku keras sekali, menyadarkanku dari lamunan tentang
seseorang. Sejak tadi pagi fikiranku tidak terfokus pada kuliah. Entahlah saat
ini hatiku tak karuan, dipenuhi perasaan-perasaan aneh yang menarik ulur
hatiku.
“Hadir pak…!!” kata itu spontan
keluar dari bibir manisku. Bukan bermaksud sombong, tapi orang-orang sering
bilang kalo bibirku manis, sampai-sampai aku ke-GR-an karenanya. Teman-temanku
tertawa mendegar jawabanku, apalagi melihat mukaku yang memerah seperti udang
rebus karena diserang pasukan malu. Aku baru sadar setelah nyawaku kemabli
terkumpul, ternyata dosen itu tidak sedang mengabsenku, tapi beliau tau bahwa
fikiranku sedang mengembara. Tanpa berfikir panjang, dosen killer itu langsung
memberiku tugas membuat makalah analisa hadis sebagai hukuman. Tidak ada yang
bisa aku lakukan selain menerima tugas tesebut dengan berat hati, karena setumpuk
tugas telah membanjiriku dan tertampung di meja belajarku. Seandainya tugas-tugas
itu bisa berbicara, aku yakin sekarang mereka sudah berteriak-teriak menangis
karena tidak segera disentuh oleh empunya. Kuliah di FAI UMY demi menjadi
seorang guru ini memang tidak bisa dianggap ringan.