Senin, 06 Mei 2013

Nilai-nilai mashlahah dalam ibadah Haji



Ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke lima. Berhaji adalah bentuk totalitas makhluk dalam penghambaannya kepada Rabb yang Maha Agung karena banyaknya  persiapan. Mulai dari waktu, fisik, niat, sampai persiapan materi/dana. Bentuk kepasrahan akan sisa-sisa hidup yang diberikan Allah. Berpakaian serba putih yang terlihat tak ada pembeda, tak ada pembatas, antara dia si kaya dan si miskin dan hanya iman dan taqwa yang bisa membedakannya.  
            Haji membutuhkan fisik yang kuat bagi setiap “tentara jihad” yang melaksanakannya, karena haji tidak hanya dilakukan seperti shalat yang rampung pelaksanaannya dalam beberapa menit saja namun butuh waktu yang lebih lama.  Haji juga membutuhkan materi yang banyak, karena letaknya yang amat sangat jauh dan tidak bisa dilalui dengan berjalan bahkan dibutuhkan pesawat untuk melancarkan transportasinya.

            Lalu bagaimanakah pelaksanaan haji dan filosofi dari setiap amalan-amalan yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah itu? Pasti semuanya memiliki rahasia yang melambangkan sesuatu dan memiliki manfaat untuk pengingat manusia sebagai makhluk Tuhan yang harus menghamba, beribadah, berpasrah padaNya.  
            Haji terdiri dari amalan-amalan yang banyak, antara lain adalah yang pertama Miqat, thawaf, sa’i, arafah, masy’ar, dan yang terakhir berada di Mina pada tanggal 10 dzulhijjah. Dalam rukun-rukun yang sudah disebutkan ini, banyak filosofi yang bisa diambil dari setiap amalan-amalan ini.
            Adapun yang pertama adalah saat bala tentara masuk ke Miqat, lalu kenapa para tentara ini harus mengganti pakaiannya dengan serba putih tanpa jahitan? Bagi laki-laki dilarang memakai penutup kepala dan bagi wanita dilarang menutup muka. Adapun filosofi dari berpakaian serba putih ini adalah untuk menghilangkan adanya pemisah dan pembeda diantara makhluk Allah, dan biarkan Iman menjadi pembeda dan menjadi penguat cinta kepadaNya, bukan dengan harta dan kehidupan dunia yang membutakan mata hati.
            Mereka beriringan menjadi satu arus yang mengelilingi simbol Tuhan. Symbol tersebut berbentuk kubus, mengapa? Karena ka’bah tidak punya arah (karena bentuknya seperti kubus) namun dengan menghadap Ka’bah ketika melakukan shalat maka engkau telah memilih arah Allah dan menghadap kepadaNya. Ketidakberarahan Ka’bah mungkin terasa sulit dimengerti. Namun, dengan kondisi seperti itu, berlakulah universalitas dan kemutlakan bentuk Ka’bah. Untuk bangunan yang bersisi 6 maka struktur yang sesuai adalah kubus.
            Mengapa begitu sederhana tanpa warna dan ornamen? Karena Allah yang Maha Kuasa tidak memiliki bentuk, tidak berwarna dan tidak ada yang menyerupaiNya. Tidak ada pola atau visualisasi Allah yang dapat diimajinasikan oleh manusia. Karena Maha Kuasa dan Maha Ada ada di mana-mana.
            Beriringan berjalan perlahan mengelilingi simbol Tuhan. Thawaf merupakan contoh dari sebuah sistem yang berdasarkan pada gagasan tentang monotheisme (ketauhidan) yang meliputi orientasi partikel (manusia). Allah adalah pusat eksistensi Dia adalah fokus dari dunia yang sementara ini. sebaliknya, para tentara jihad ini beriringan mengelilingi Ka’bah dan dengan usaha yang ulet sedikit demi sedikit berjalan mendekati. Ini adalah lambang bahwa manusia perlu dekat dengan Tuhannya. Saat berjalan mengelilingi Ka’bah, perlu adanya kerja sama antar tentara jihad yang melakukan agar terciptanya kelancaran, hal ini juga menandakan bahwa manusia juga saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Thawaf memberikan kita pengertian bahwa meskipun mu’aamalah ma’a Allah itu penting, kita tidak seharusnya menafikan mu’aamalah ma’annas.
            Berganti melakukan proses selanjutnya yaitu sa’i. Sa’i adalah lari-lari kecil di antara dua bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Pada saat berada di bagian jalan (tempat) yang tingginya sama dengan Ka’bah, maka harus melakukan Harwalah (bergegas dengan gerakan yang lebih cepat). Selanjutnya  berjalan seperti biasa ke kaki bukit marwah. Sa’i juga merupakan sebuah pencarian. Ia merupakan sebuah gerakan yang memiliki tujuan dan diilustrasikan dengan bergegas dan berlari-lari. Di Maqam Ibrahim para tentara berperan sebagai Ibrahim dan Isma’il, begitu memulai sa’i maka berpindah peran seperti Hajar.
            Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan yang melambangkan kembali kepada Allah. Hal ini dilambangakan dalam tiga hal yang merupakan satu rangkaian. Ketiga hal tersebut adalah  bertolak ke Arafah yang berarti pengetahuan dan sains, masy’ar yang berarti kesadaran dan pegertian, dan Mina yang berarti cinta dan keyakinan.
            Apabila sebelumnrya para tentara jihad berjalan selangkah demi selangkah dari Shafa ke Marwah, maka selanjutnya  mereka diperintahkan agar dengan semangat berjalan tanpa henti menuju Arafat dan singgah di sana pada hari yang ke 9. Dari Makkah, para tentara pergi ke Arafat maksudnya ialah untuk kembali kepada Allah (inna lillah). Arafat adalah tempat dimana Adam dan Hawa bertemu dan berkenalan setelah diturunkan dari surga karena kesalahan yang mereka buat. Karena dosa itulah Allah memerintahkan untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu jalan Allah. Meninggalkan Makah menuju Arafat melambangkan awal kejadian manusia. Arafat yang berarti pengetahuan melambangkan manusia dan pengetahuan tercipta dalam waktu yang bersamaan. Sebagai akibatnya, dari sudut pandang filosofis kita bisa mengatakan bahwa eksistensi manusia adalah seusia dengan eksistensi pengetahuan. Dan dari sudut pandang ilmiah bahwa sejarah manusia bermula dengan pengetahuan. Wukuf di Arafat juga melambangkan bahwa hidup manusia di dunia ini hanya sebentar saja.
            Setelah hari gelap, para tentara harus segerta bertolak meninggalkan Makkah menuju masy’ar. Di sana mereka mencari kerikil. Hal ini melambangkan para tentara jihad sedang mengumpulkan senjata untuk memerangi musuh-musuh mereka di medan pertempuran Mina. Dalam memilih kerikil pun harus memilih yang baik-baik. Melambangkan bahwa dalam memilih peluru untuk menembak musuh harus menggunakan peluru yang terbaik. Lemparnya pun harus tepat mengenai sasaran dan tidak boleh kurang dari yang dianjurkan. Di malam Masy’ar inilah mula-mula kita menyaksikan pasukan tentara perkasa yang sedang merencanakan penyerangan keesokan harinya.
            Di sepanjang malam tadi bala tentara tauhid ini telah menghabiskan waktu untuk mengumpulkan senjata mereka. Keesokan harinya pasukan ini bergerak ke arah barat menuju Mina, negri Allah dan Syetan. Mereka juga bermalam di Mina. Setelah pagi datang, pelemparan  jumrah dimualai. Pelemparan ini melambangkan  para tentara sedang berperang dan melakukan pembalasan dengan menumpas tiga penindas di dalam sejarah.
            Miqat, thawaf, sa’i, arafah, masy’ar, dan mina beserta filosofi yang terkandung didalamnya merupakan unsur dharuriyat dalam rangka menjaga agama Allah (hifdzu ad-diin).
            Allah memberikan pilihan bagi para tentara jihad dalam pelaksanaan ibadah haji. Para tentara jihad memiliki hak untuk memilih tata cara ibadah haji, apakah dia akan melaksanakan haji tamattu’, ifrad, atau qiran. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu, sebagaimana terlihat dalam hadis berikut : Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Diantara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram untuk haji . Orang yang berihram untuk umrah ber- tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar Ini adalah salah satu bentuk maslahah hajjiyat yang terkandung dalam ibadah haji.  Pilihan tersebut menggunakan konsep taisir, dimana setiap jama’ah berhak memilih sesuai dengan kondisi masing-masing. Jika pilihan ini tidak ada, maka  akan menyulitkan para tentara jihad, sebab tidak semua tentara mempunyai kondisi yang sama.
Ibadah haji juga mengandung unsur mashlahah tahsiniyat. Berpamitan dengan keluarga, saudara, dan tetangga sangat afdhal dikerjakan bagi calon tentara jihad fii sabiilillah. Ibadah haji tersebut tidak salah dan tidak rusak jika tidak berpamitan dengan mereka, namun  keindahan, keetisan, dan kesempurnaan ibadah haji akan semakin terlihat apabila hal itu dilaksanakan. Orang-orang yang dipamiti tentunya juga akan memberikan apresiasi yang lebih besar sehingga do’a-do’a lebih deras tercurah dari mereka dengan harapan akan calon jama’ah haji itu akan menjadi haji yang mabrur. Do’a-do’a keselamatan dan kemenagan bagi para tentara yang sedang berperang di jalan Allah pun mengalir deras dari bibir saudara seiman.
Begitu juga dengan membawa oleh-oleh berupa air zam-zam untuk keluarga dirumah. Oleh-oleh tersebut adalalah buah tangan yang paling ditunggu-tunggu oleh keluarga di rumah. Kareana air zam-zam bukanlah air yang biasa di temukan di sumur-sumur biasa. Hanya ada satu mata air tersuci di dunia ini yang di beberapa hadis disebutkan manfaat-manfaatnya. Sehingga sangat etis sekali jika tentara jihad pulang dengan membawakan berkah yang hanya bisa ditemukan di tanah suci.


Title: Nilai-nilai mashlahah dalam ibadah Haji; Written by Unknown; Rating: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah membaca..dimohon masukannya ya.. :)